-->

Khamis, Mac 31, 2011

Siapakah Memberi Khabar?

Saya letih sebenarnya. Banyak benar tugasan. Tapi rasa macam tak seronok bila blog bersawang. Jadi saya berkongsi dengan anda satu puisi indah karya seniman Latiff Mohideen. Lagu ini dinyanyikan oleh Allahyarham Zubir Ali bersama kumpulan Harmoni. Nak dengar downloadlah di sini:
Download



Siapakah Memberi Khabar

siapakah memberi khabar
fajar akan menjelma
pabila malam dipancung
oleh ketakutan

siapakah memberi khabar
bunga akan tumbuh
pabila alam dibakar hangus
oleh kesangsian

siapakah memberi khabar
cinta akan timbul
pabila dada ditenggelamkan
oleh kepalsuan

Karya: Latiff Mohideen

Ahad, Mac 27, 2011

Masih Jelas Rindu Setengah Mati...

Sudah agak lama saya tidak mendengar lagu-lagu baru. Siaran radio di rumah ini 24 jam berkumandang dengan lagu-lagu klasik dari Klasik Nasional kerana kakak saya amat meminati lagu-lagu pada zamannya. Kadang-kadang saya cuba menukar saluran untuk mendengar lagu-lagu baru yang segar. Tapi tidak sampai setengah jam kakak saya akan menukar semula siaran kepada saluran kegemarannya dengan kritikan yang telah berpuluh kali keluar dari bibirnya. 'Lagu sekarang ni tak sedap, ntah hapa-hapa!' Hehehe. Tidak mengapalah. Saya beralah. Saya boleh mendengar lagu-lagu baru melalui siaran radio di smartphone saya.

Tapinya saya masih jarang mendengar lagu kerana sibuk dengan tugasan saya. Saya ini jenis yang tidak suka menulis sambil mendengar lagu. Memang tabiat saya dari dulu. Jika menulis sambil mendengar lagu, saya tidak mampu konsentrasi.

Tadi sambil mencari bahan saya rewang-rewang ke blog kenalan kemudian singgah menjengah blog anakanda saya. Lagu dalam blognya itu memang akrab pada telinga saya. Sering saya dengar di TV. Namun apa yang menarik, baru hari ini saya perasan betapa puitisnya lagu ini. Liriknya begitu kena dengan melodi sekaligus saya mengerti mengapa dia memilih lagu ini untuk blognya.Anakanda saya menggabungkan dua bunga lagu sebagai latar blognya. Gabungan lagu D'Massive, Rindu Setengah Mati dengan lagu Hafiz, Masih jelas...cukup menggambarkan keseluruhan perasaannya. Tersentuh naluri keibuan saya.

Rindu Setengah Mati

Aku ingin engkau ada di sini
Menemaniku saat sepi
Menemaniku saat gundah

Berat hidup ini tanpa dirimu
Ku hanya mencintai kamu
Ku hanya memiliki kamu

Aku rindu setengah mati kepadamu
Sungguh ku ingin kau tahu
Aku rindu setengah mati

Meski t’lah lama kita tak bertemu
Ku slalu memimpikan kamu
Ku tak bisa hidup tanpamu

Aku rindu setengah mati kepadamu
Sungguh ku ingin kau tahu
Ku tak bisa hidup tanpamu
Aku rindu

Lagu ini adalah lagu tema sinetron kegemaran kakak saya, Kejora dan Bintang. Setiap kali menonton sinetron itu saya harus selalu menenangkan dia kerana dia terlalu beremosi. Marah-marah pada watak baik yang 'bangang' dan lurus bendul yang mudah diperkotak-katikkan oleh watak jahat. Sakit hati pada watak jahat yang sentiasa saja menang.Sehinggalah kepada perkara-perkara remeh yang tidak logik dan menyakitkan hati apabila menontonnya :)

Masih Jelas - Hafiz

Beralih musim ke musim
Hati tetap serupa
Tiada yang berubah
Dari hari dikau pergi, dikau pergi

Penjara, hidup ini penjara
Tanpa ada simpati
Kepada sang kekasih
Yang dilanda, yang dilanda kehilangan

Masih jelas setiap garisan halus
Bila senyuman kau ukirkan untukku
Masih jelas setiap lekuk penjuru
Menghiasi wajahmu waktu kau renung aku

Ratib sendu
Bergetar dalam kalbu
Hingga menitis linang
Dari kelopak mata
Keranamu, keranaku dipisahkan

Masih jelas setiap garisan halus
Bila senyuman kau ukirkan untukku
Masih jelas setiap lekuk penjuru
Menghiasi wajahmu waktu kau renung aku

Masih jelas setiap garisan halus
Bila senyuman kau ukirkan untukku
Masih jelas setiap lekuk penjuru
Menghiasi wajahmu waktu kau renung aku

Sudah suratan takdir begini
Segalanya sementara
Selagi hayat ku masih ada
Kau bertakhta di hatiku

Beralih musim ke musim
Hati tetap serupa
Tiada yang berubah
Dari hari dikau pergi, dikau pergi
Dikau pergi

Lagu: Aidit Alfian (Indah Karya Publishing (M) Sdn Bhd)
Lirik: Ad Samad (Fighting Poet Sdn Bhd, S/P Luncai Emas Sdn Bhd)

Catitan: Pujian saya kepada Aidit Alfian dan Ad Samad kerana menghasilkan karya yang indah ini.Ya... tersentuh jiwa...teringat zaman muda :p

Selasa, Mac 22, 2011

Mencintai Penanda Dosa

Dalam hidup, Allah sering menjumpakan kita dengan orang-orang yang membuat hati bergumam lirih, “Ah, surga masih jauh.” Pada banyak kejadian, ia diwakili oleh orang-orang penuh cahaya yang kilau keshalihannya kadang membuat kita harus memejam mata.
Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu. Ada suami-isteri niagawan kecil yang oleh tetangganya sering disebut si mabrur sebelum haji. Selidik saya menjawabkan, mereka yang menabung bertahun-tahun demi menjenguk rumah Allah itu, menarik uang simpanannya demi mencukupi kebutuhan pengungsi yang kelaparan dan kedinginan di pelupuk mata.
“Kalau sudah rizqi kami”, ujar si suami dengan mata berkaca nan manusiawi, “Kami yakin insyaallah akan kesampaian juga jadi tamu Allah. Satu saat nanti. Satu saat nanti.” Saya memeluknya dengan hati gerimis. Surga terasa masih jauh di hadapan mereka yang mabrur sebelum berhaji.
Ada lagi pengantin surga. Keluarga yang hendak menikahkan dan menyelenggarakan walimah putra-putrinya itu bersepakat mengalihkan beras dan segala anggaran ke barak pengungsi. Nikah pemuda-pemudi itu tetap berlangsung. Khidmat sekali. Dan perayaannya penuh doa yang mungkin saja mengguncang ‘Arsyi. Sebab semua pengungsi yang makan hidangan di barak nan mereka dirikan berlinangan penuh haru memohonkan keberkahan.
Catatan indah ini tentu masih panjang. Ada rumah bersahaja berkamar tiga yang menampung seratusan pelarian musibah. Untuk pemiliknya saya mendoa, semoga istana surganya megah gempita. Ada juru masak penginapan berbintang yang cutikan diri, membaktikan keahlian di dapur umum. Ada penjual nasi gudheg yang sedekahkan 2 pekan dagangannya bagi ransum para terdampak bencana. Semoga tiap butir nasi, serpih sayur, dan serat lelaukan bertasbih untuk mereka.
Ada juga tukang pijit dan tukang cukur yang keliling cuma-cuma menyegarkan raga-raga letih, barak demi barak. Ad dokter-dokter yang rela tinggalkan kenyamanan ruang berpendingin untuk berdebu-debu dan berjijik-jijik. Ada lagi para mahasiswa dan muda-mudi yang kembali mengkanakkan diri, membersamai dan menceriakan bocah-bocah pengungsi. Semua kebermanfaatan surgawi itu, sungguh membuat iri.
***
“Ah, surga masih jauh.”
Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?
Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.
Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?
Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.
“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.
“Ah, surga masih jauh.”
Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.
Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.
Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.
“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”
“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”
“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”
Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.
Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.
“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”
Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.
“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”
“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.
“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”
“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.
Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.
Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”
www.safillah.co.cc
***
NB: sahibatul hikayah berpesan agar kisah ini diceritakan untuk berbagi tentang betapa pentingnya menjaga iman, rasa taqwa, dan tiap detail syari’atNya di tiap langkah kehidupan. Juga agar ada pembelajaran untuk kita bisa memilih sikap terbaik menghadapi tiap uji kehidupan. Semoga Allah menyayanginya.

Sumber: http://paksi.net

Isnin, Mac 21, 2011

Adakah Kita Kisah?

Kita selalu lupa pada tangan yang memberi ketika kita susah, lupa pada kasih-sayang yang dicurahkan ketika kita gundah. Lupa pada doa yang selalu mengiringi kita ketika dilanda musibah. Lupa pada keikhlasan yang mengiringi setiap jejak dan langkah. Di manakah kita ketika orang itu sedang getir menunggu rebah? Tanyalah diri kita sejujurnya, adakah kita kisah?

Catitan: Marilah kita sama-sama bermuhasabah diri...usahlah menjadi orang yang tak sedar diri dan tak mengenang budi.

Ahad, Mac 20, 2011

Dangerous Websites Against Islam


Beware of the following websites:

www.answering-islam.org
www.aboutislam.com
www.thequran.com
www.allahassurance.com

These sites have been developed by Jews .

Who Intentionally are spreading wrong information about the QURAN , the HADITH and ISLAM itself.

Please spread this information

To all the Muslim brothers and sisters around the world. The list of traced anti- Islamic websites, about Islam are:

1. http://www.islamreview.com/
This site has posted fake stories of how Muslims converted to Christianity. How do I know? Read the following excerpt from one of the stories:
First the ‘convert’ says: (emphasis added)
In the end, I managed to convince my mother, as it was for Allah and I joined the Islamic College. Having graduated as an ustaz, I was soon posted to my neighbourhood…
And then: My trip to Mecca for the Haj (pilgrimage) was tiring but eventful. I did not have the rare opportunity to see inside the holy Kabah and the holy idols inside, which Prophet Muhammud had helped to place, as explained in Bukhari’s Hadith
An Ustaz (scholar) in Islaamic Studies is saying that there are idols inside the Kabah and that too placed by Muhammad (saw) himself!?!?!
This clearly shows that the author is deliberately trying to spread misinformation about Islaam and wants to convey to possible reverts to Islaam that it is religion of idol worship.
In fact most of the Christian sites use this tactic of false convert stories but it’s not always possible to prove it

2. http://www.faithfreedom.org/

AlhamduliLlaah I was able to catch another site posting fake stories of Muslims leaving Islaam. See the false information imparted here. That the attempt is deliberate is known through the claim that the ‘convert’ has done detailed study about the topic.

For Islamic Education, I had to study about marriage in detail to do well. So, I learnt all the stuff and got the highest grade anyone can get for Islamic Education. And guess what? Because I know it so well, I know that there is a lot of discrimination against women in Islam. Things like a father and grandfather can marry a girl/woman to whomever they want even if the girl/woman doesn’t want to marry that person… In addition, I learned things like women couldn’t be witnesses in Syariah Courts and things like that

The first point here is a total lie whereas the second is a distorted version of the truth.

3. http://www.answering-islam.org/Testi…younathan.html

Here’s yet another extract from a false convert story aimed at spreading misinformation about Islaam.

As I started thinking about my life and the Quran, I realized all Muslims, even the prophet Muhammad, would go to Hell for certain sins they committed in their lifetime.

This is a common ploy of the Christian Missionaries. They first inform gullible victims that Jesus (God) is Love and just by believing in the Crucifixion, you will be assured of Paradise. Whereas the concept of God in Islaam is so harsh that no one will be spared from Hell and that even Prophet Muhammad (saw) was not sure of where he would end up. For this purpose they quote an ayat of the Qur’aan out of context. Here there have gone a step further by saying that even our beloved Prophet (saw) would have to go through hell. Nothing could be further from the truth.

Anti Islaamic Sites under misleading names

4. http://www.muslimhope.com/

5. http://www.islameyat.com/

6. http://www.islamreview.com

7. http://www.muhammadanism.com/

8. http://thespiritofislam.com/index.html

9. http://www.abrahamic-faith.com/

10. http://www.gnfcw.com/

11. http://www.knowislam.info/drupal/mno

12. http://www.homa.org/

13. http://www.thequran.com/

14. http://www.allahassurance.com/

15. http://www.mosque.com/

16. http://thespiritofislam.com/index.html

17. http://www.newislam.org/

18. http://www.islam-exposed.org/

19. http://answering-islam.org.uk/

20. http://www.answeringinfidels.com/

21. http://www.islamundressed.com/

22. http://www.studytoanswer.net/myths_ch1.html

23. http://www.challenging-islam.org/sub…ns/shariah.htm

24. www.answering-islam.org

25. http://www.islamundressed.com/

26. http://www.exmuslim.com/

27. http://www.answeringinfidels.com

28. http://www.gnfcw.com/

29. http://www.dhimmi.com/

30. http://www.chick.com/information/religions/islam/

31. http://www.acage.org/

32. http://www.apostatesofislam.com/

33. http://www.secularislam.org/

34. http://www.muslim-refusenik.com/

35. http://www.icapi.org/

36. http://www.hesetsfree.org/

37. http://www.letusreason.org/Islamdir.htm

38. http://www.kafirnation.com/

39. http://www.jihadwatch.org/

40. http://www.anti-cair-net.org/

41. http://apostatesofislam.com/

42. http://challenging-islam.org/

Sumber: http://dakwah.org/

Rabu, Mac 09, 2011

Lagu Maut "Gloomy Sunday"


Lagu Gloomy sunday yang dicipta oleh Reszo Seress lebih lapan dekad yang lalu sering dikaitkan dengan kematian. Ada juga yang mengkategorikannya sebagai 'lagu maut'. Sejauh manalah kebenarannya? Adakah lagu itu benar-benar berhantu dan begitu meruntun hati sehingga mampu mempengaruhi naluri pendengarnya supaya membunuh diri? Adakah lagu itu mampu membawa impak yang serupa hari ini sama dengan impak di zamannya?

Lagu gloomy sunday dicipta oleh Reszo pada hari yang sama dengan pertengkaran hebat yang berakhir dengan perpisahan dengan tunangnya yang mahu Reszo mencari pekerjaan tetap demi masa depan mereka. Reszo bukanlah pencipta dan penggubah lagu yang hebat kerana semua lagu gubahannya langsung tidak berjaya menarik minat sebarang penerbit.

Pertengkaran hebat yang terjadi pada hari ahad itu yang disulami dendam dan kebencian memberikan tekanan hebat dalam diri Reszo. Selepas pertengkaran
itu, Reszo duduk di depan pianonya sambil merenung langit malam yang suram
dengan awan berat dari jendela yang terbuka.

'Ahad yang suram'... Dalam deruan hujan Reszo terus mendapat ilham lalu jarinya terus memainkan melodi melankolia aneh yang seolah-olah mengadaptasikan kesedihan dan kekecewaan akibat putus kasih dengan tunangannya. Reszo menulis nota lagu itu pada sekeping poskad lama. Lagu itu digubah dalam masa 30 minit sahaja.

Reszo kemudian menghantar karyanya itu kepada seorang penerbit. Dia menanti dengan penuh harapan karyanya itu kali ini akan diterima. Beberapa hari kemudian, gubahannya itu dikembalikan dengan nota penolakan yang berbunyi: "Melodi Gloomy terlalu menyedihkan dan kami meminta maaf tidak dapat menerimanya."

Reszo mencuba nasib dengan penerbit lain. Dia bernasib baik kerana kali ini karyanya diterima. Penerbit tersebut memberitahu Reszo bahawa lagunya akan diedarkan keseluruh dunia. Reszo amat gembira bagaikan bulan jatuh ke riba.

Namun beberapa bulan setelah Gloomy Sunday diedarkan, berlaku beberapa kejadian aneh yang semuanya dikaitkan dengan lagu tersebut.Di Berlin, seorang lelaki meminta lagu itu dimainkan. Setelah mendengar lagu itu, dia pulang ke rumah kemudian menembak kepalanya selepas mengadu amat tertekan dan tidak dapat melupakan melodi lagu tersebut.

Di bandar yang sama seminggu kemudian, seorang pembantu kedai wanita ditemui tergantung di rumahnya. Polis yang menyiasat kes itu menemui salinan lagu Gloomy Sunday di bilik tidur gadis itu.

Tragedi tidak berakhir di situ. Dua hari kemudian, seorang setiausaha muda di New York membunuh diri. Pada nota yang ditemui, dia meminta lagu Gloomy sunday dimainkan pada hari pengebumiannya.

Beberapa minggu kemudian, seorang lagi penduduk New York berusia 82 tahun membunuh diri dengan melompat dari tingkat tujuh pangsapurinya selepas memainkan ‘lagu maut’ itu dengan piano. Sekitar masa sama, seorang remaja di Rome yang mendengar lagu itu membunuh diri dengan melompat dari jambatan.

Akhbar segera melaporkan beberapa lagi kematian yang dikaitkan dengan lagu gubahan Reszo itu. Sebuah akhbar melaporkan kes seorang wanita di utara London yang memainkan lagu berkenaan sebanyak 78 kali tanpa henti sehingga menakutkan dan menaikkan kemarahan jirannya yang membaca kisah kematian yang dikaitkan dengan irama itu.Mereka mengetuk rumah wanita berkenaan tetapi tiada jawapan. Mereka akhirnya merempuh masuk ke rumah itu dan mendapati wanita berkenaan sudah meninggal dunia.

Kematian demi kematian aneh yang dikaitkan dengan Gloomy Sunday memaksa pegawai atasan Perbadanan Penyiaran Britain (BBC) melarang lagu itu dimainkan. Keanehan itu turut dirasakan penggubahnya, Reszo Seress.

Dia menulis surat kepada bekas tunangnya, merayu mereka berbaik semula. Namun beberapa hari kemudian, dia menerima berita mengejutkan apabila polis memberitahu wanita itu membunuh diri dengan meminum racun. Di sisi mayatnya, salinan Gloomy Sunday ditemui.

Pada akhir 1930-an, apabila dunia memerangi Adolf Hitler, lagu berkenaan dilupakan. Salinan lagu ini masih boleh didapati tetapi tidak ramai berani mendengarnya selepas mengetahui ‘sumpahannya’.

Petikan: Berita Minggu
Misteri: Lagu maut
Oleh Hazirah Che Sab
2010/06/06


Saya telah mendengar lagu ini iatu versi asal*** Gloomy Sunday***

r e z s ő s e r e s s l y r i c s

Ősz van és peregnek a sárgult levelek
Meghalt a földön az emberi szeretet
Bánatos könnyekkel zokog az öszi szél
Szívem már új tavaszt nem vár és nem remél
Hiába sírok és hiába szenvedek
Szívtelen rosszak és kapzsik az emberek...

Meghalt a szeretet!

Vége a világnak, vége a reménynek
Városok pusztulnak, srapnelek zenélnek
Emberek vérétől piros a tarka rét
Halottak fekszenek az úton szerteszét
Még egyszer elmondom csendben az imámat:
Uram, az emberek gyarlók és hibáznak...

Vége a világnak!

LITERAL ENGLISH TRANSLATION:

It is autumn and the leaves are falling
All love has died on earth
The wind is weeping with sorrowful tears
My heart will never hope for a new spring again
My tears and my sorrows are all in vain
People are heartless, greedy and wicked...

Love has died!

The world has come to its end, hope has ceased to have a meaning
Cities are being wiped out, shrapnel is making music
Meadows are coloured red with human blood
There are dead people on the streets everywhere
I will say another quiet prayer:
People are sinners, Lord, they make mistakes...

The world has ended!

Juga versi baru nyanyian Sarah Brightman ***Gloomy Sunday***


Sunday is Gloomy,
My hours are slumberless,
Dearest, the shadows I live with are numberless
Little white flowers will never awaken you

Not where the black coach of sorrow has taken you
Angels have no thought of ever returning you
Would they be angry if I thought of joining you
Gloomy Sunday

Sunday is gloomy
with shadows I spend it all
My heart and I have decided to end it all
Soon there'll be flowers and prayers that are sad,
I know, let them not weep,
Let them know that I'm glad to go

Death is n. o dream,
For in death I'm caressing you
With the last breath of my soul I'll be blessing you
Gloomy Sunday

Dreaming
I was only dreaming
I wake and I find you
Asleep in the deep of
My heart
Dear

Darling I hope that my dream never haunted you
My heart is telling you how much I wanted you
Gloomy Sunday

Lagunya memang agak sedih dan lirih dengan lirik yang juga sedikit menggugah
perasaan. Namun tidak pula muncul ketakutan, keseraman atau naluri ingin membunuh diri. Barangkali sumpahannya sudah berakhir :)

Walau apapun alasannya, saya yakin keimanan dan kekuatan hati melalui segala
ranjau, kekecewaan dan kesedihan hati adalah benteng yang amat kental sekali.
Lagu sekadar unsur sampingan yang mendorong kepada roh yang kosong pengisiannya bergentayangan mencari jalan pintas untuk segera mengakhiri segala kesakitan dan penderitaan perasaan yang tidak tertahankan secara songsang yang dijampi syaitan. Jadi...usah salahkan lagu! Perteguhkanlah keimanan kita dulu.

Isnin, Mac 07, 2011

Rindu...

Saya merindui halaman ini. Merindui aroma rumput basah serta riang kicau burung di pagi hari. Merindui wangi asap daripada nyalaan perlahan api lembut yang membakar dedaun kering di petang hari...

Ahad, Mac 06, 2011

Berjalan Di Hutan Cemara

Berjalan di hutan cemara
Langkahku terasa kecil dan lelah
Makin dalam lagi
Ku ditelan fatamorgana

Tebing tanah basah di pinggir jalan setapal
Seperti garis wajahmu
Teduh dan kasih
Makin dalam lagi
Ku dicengkam kerinduan

Kabut putih melintas di jalanku
Jarak pandangku dua langkah ke depan
Ada seberkas cahaya
Menembus rimbun dedaunan
Sanggupkah menerangi jalanku

Dan aku berharap
Kapankah kiranya
Sampai di puncak sana
Aku kan bertanya siapa diriku?
Aku kan bertanya siapakah Kamu?
Aku kan bertanya siapa mereka?
Aku kan bertanya siapa kita?

Lagu & Lirik: Ebiet G Ade
.~Sebelum Mata Terpejam~ ©2006 - 2014. Hakcipta :rafikasastras~Sebelum Mata Terpejam~